Bima,– Harapan untuk sembuh dari sakit perut justru berubah menjadi penderitaan baru bagi Mijarina (50), warga Desa Tololai, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima. Setelah menjalani operasi usus buntu di Rumah Sakit dr. Agung Bima sekitar sepekan lalu, perempuan tersebut dilaporkan mengalami kelumpuhan dan kini hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kondisi ini memicu tanda tanya besar dari pihak keluarga terkait proses penanganan medis yang dilakukan rumah sakit.
Keluarga mengaku terkejut dengan kondisi yang dialami Mijarina setelah menjalani tindakan operasi. Sebelum masuk ruang operasi, pasien disebut masih dalam keadaan sadar dan mampu beraktivitas seperti biasa meski merasakan nyeri di bagian perut.
Salah satu anggota keluarga menuturkan, awalnya Mijarina hanya mengeluhkan sakit perut. Setelah diperiksa oleh dokter, ia kemudian disarankan untuk menjalani operasi usus buntu.
“Awalnya hanya sakit perut. Setelah diperiksa dokter, disarankan operasi usus buntu. Operasinya memang berjalan, tapi setelah itu kakinya sulit digerakkan,” ujar salah satu anggota keluarga, Rabu (25/2/2026).
Pihak keluarga pun mulai mempertanyakan prosedur medis yang dilakukan selama proses operasi. Mereka menduga ada kelalaian dalam penanganan, terutama pada tahap pembiusan atau saat tindakan operasi berlangsung.
Keluarga berharap pihak rumah sakit dapat memberikan penjelasan secara terbuka terkait kondisi pasien yang kini tidak dapat menggerakkan kakinya dan harus menjalani perawatan intensif.
Menurut keluarga, pihak Rumah Sakit dr. Agung Bima juga sempat menyarankan agar pasien menjalani pengobatan lanjutan di Rumah Sakit Kabupaten Bima yang berada tidak jauh dari lokasi RS dr. Agung. Alasannya, rumah sakit tersebut memiliki fasilitas terapi yang lebih lengkap. Namun, untuk proses rujukan, keluarga diminta terlebih dahulu mengurus surat rujukan dari Puskesmas Ambalawi.
Kasus ini pun menarik perhatian warga di Desa Tololai dan Kecamatan Ambalawi. Sejumlah tokoh masyarakat meminta agar persoalan tersebut ditangani secara transparan serta mengutamakan keselamatan pasien.
Aktivis sosial NTB, Ilhamuddin, turut menyoroti kejadian tersebut. Ia mendesak pihak rumah sakit untuk terbuka terkait dugaan kelalaian medis yang dialami pasien.
“Kami meminta pihak rumah sakit transparan. Ada dugaan kelalaian atau malpraktik yang dilakukan oleh dokter bedah di Rumah Sakit dr. Agung,” kata Ilhamuddin.
Ia juga mengaku tengah mendorong pihak keluarga pasien untuk menempuh jalur hukum guna mendapatkan kejelasan atas peristiwa tersebut.
Sementara itu, perwakilan manajemen Rumah Sakit dr. Agung Bima saat dikonfirmasi menyatakan belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut terkait kasus tersebut.
“Kami akan menghubungi terlebih dahulu pihak keluarga pasien. Untuk saat ini kami belum bisa memberikan klarifikasi,” ujar perwakilan manajemen rumah sakit.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi Mijarina dilaporkan masih dalam perawatan dan belum menunjukkan perkembangan signifikan. Pihak keluarga berharap ada tanggung jawab serta solusi yang jelas dari rumah sakit atas kondisi yang dialami pasien tersebut. (Red)

Komentar