BIMA,– Kritik tajam kembali menghantam tubuh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bima. Organisasi yang seharusnya menjadi garda terdepan memperjuangkan nasib guru justru dinilai melempem, kehilangan arah, dan minim keberanian saat anggotanya menghadapi tekanan di lapangan.
Sorotan keras itu disampaikan Pemberhati Daerah, Nasrullah alias Ndai Ruma Rengge Sape. Ia menilai PGRI tidak boleh lagi dipimpin oleh figur yang ragu-ragu, lemah dalam sikap, dan hanya mengandalkan retorika tanpa keberanian bertindak.
“Cukup sudah PGRI berjalan tanpa arah. Cukup sudah dipimpin oleh mereka yang hanya diam saat guru tertekan,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi PGRI saat ini memprihatinkan. Arah perjuangan dinilai kabur, keberpihakan terhadap guru melemah, serta minim keberanian dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi tenaga pendidik.
Dalam momentum pemilihan Ketua PGRI mendatang, ia menilai figur pemimpin yang berani dan tegas menjadi kebutuhan mendesak. Ia pun secara terbuka menyebut nama Doktor Juwaidin, M.Pd sebagai sosok yang dinilai mampu membawa perubahan.
“Ini bukan soal kedekatan, tapi soal siapa yang berani berdiri di garis depan. Saya melihat itu ada pada Doktor Juwaidin—tegas, jujur, dan tidak bisa dibeli oleh kepentingan sempit,” ujarnya.
Ndai Ruma juga menyindir pihak-pihak yang dinilai hanya bermain aman dan menikmati jabatan tanpa benar-benar memperjuangkan kepentingan guru.
“Jangan lagi pilih pemimpin yang datang saat butuh suara, lalu hilang saat guru butuh pembelaan. PGRI bukan tempat cari nyaman, tapi tempat berjuang,” katanya.
Ia menegaskan, pemilihan Ketua PGRI ke depan menjadi momentum krusial bagi masa depan organisasi. Salah memilih pemimpin, kata dia, akan semakin memperburuk posisi PGRI di mata publik.
“Kalau masih salah pilih, jangan salahkan siapa-siapa kalau PGRI makin tidak dihargai. Tapi kalau berani, perubahan itu ada di depan mata,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen PGRI untuk bersikap tegas dalam menentukan pilihan.
“Tidak ada ruang untuk setengah hati, tidak ada waktu untuk kompromi. Kalau ingin PGRI bangkit, pilih yang jelas,” pungkasnya. (Red)

Komentar