KOTA BIMA – Kelangkaan semen di Kota Bima mulai memicu keresahan di kalangan pelaku usaha konstruksi. Kondisi tersebut dinilai menghambat pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan dan memunculkan dugaan adanya praktik penimbunan oleh oknum tertentu.
Sekretaris Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Bima, Angga Taher, mengatakan pasokan semen yang sulit diperoleh dalam beberapa waktu terakhir membuat aktivitas proyek berjalan tersendat. Padahal, seluruh pekerjaan telah terikat kontrak dengan tenggat waktu penyelesaian yang ketat.
Menurutnya, semen merupakan material utama dalam pekerjaan konstruksi. Ketika stok di pasaran menipis, proses pembangunan otomatis ikut terganggu dan berpotensi memicu keterlambatan proyek.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi, dampaknya bukan hanya menghambat target pembangunan daerah, tetapi juga merugikan kontraktor sebagai pelaksana proyek,” ujar Angga.
Ia menegaskan, keterlambatan pekerjaan akibat minimnya pasokan semen dapat menimbulkan kerugian materiil bagi kontraktor. Sebab, hambatan tersebut bukan disebabkan kelalaian pelaksana proyek, melainkan karena material utama sulit diperoleh.
Angga juga mengaku mencurigai kelangkaan semen yang terjadi bukan semata persoalan distribusi biasa. Ia menduga ada oknum yang sengaja menimbun stok untuk memainkan harga di pasaran.
“Kami menduga ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi dengan menimbun semen demi keuntungan pribadi,” tegasnya.
Atas kondisi tersebut, para kontraktor meminta aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera turun tangan melakukan pengawasan terhadap distribusi semen di Kota Bima. Mereka juga mendesak adanya langkah konkret untuk memastikan pasokan kembali normal dan harga tetap stabil.
Menurut para pelaku usaha konstruksi, intervensi pemerintah sangat dibutuhkan agar proyek pembangunan yang sedang berjalan tidak semakin terhambat dan target pembangunan daerah tetap dapat tercapai sesuai rencana. (Red)

Komentar