Pelabuhan Pastikan Pasokan Lancar, Gapensi Curiga Ada Oknum Timbun Semen di Kota Bima -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

.

Pelabuhan Pastikan Pasokan Lancar, Gapensi Curiga Ada Oknum Timbun Semen di Kota Bima

Selasa, 09 Juni 2026

KOTA BIMA – Kelangkaan semen yang membuat sejumlah proyek pembangunan tersendat di Kota Bima diduga bukan disebabkan terganggunya distribusi, melainkan adanya praktik penimbunan oleh oknum tertentu demi memainkan harga di pasaran.


Dugaan itu disampaikan Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Bima, Ir. Rusdin, usai memperoleh konfirmasi langsung dari KSOP Bima dan Pelindo terkait arus distribusi semen melalui Pelabuhan Bima, Selasa (9/6/2026).


Menurut Rusdin, pihak pelabuhan memastikan aktivitas bongkar muat dan pasokan semen dari luar daerah berjalan normal tanpa kendala.


“Dari pelabuhan aman dan lancar. Barang masuk tidak ada kendala. Artinya jelas, kelangkaan ini bukan soal distribusi terputus, tapi ada permainan di dalamnya,” tegas Rusdin.


Ia menduga ada oknum pelaku usaha yang sengaja menahan stok semen di gudang untuk menciptakan kelangkaan buatan di tengah tingginya kebutuhan pembangunan.


Akibat kondisi tersebut, harga semen di Kota Bima melonjak tajam. Jika sebelumnya berkisar Rp65 ribu per sak, kini naik hingga mencapai Rp86 ribu per sak.


Kenaikan harga yang menembus sekitar Rp20 ribu per sak itu dinilai sangat memberatkan para kontraktor, terutama pelaksana proyek yang sedang dikejar target pekerjaan dan tenggat kontrak.


Sejumlah proyek disebut mulai melambat bahkan terancam berhenti akibat sulitnya memperoleh pasokan semen di pasaran lokal. Untuk menjaga proyek tetap berjalan, sebagian kontraktor terpaksa mendatangkan semen dari wilayah Sumbawa dengan biaya operasional yang lebih tinggi.


Rusdin meminta Pemerintah Kota Bima bersama aparat penegak hukum segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak ke gudang-gudang penyimpanan semen guna memastikan stok riil di lapangan.


“Pemerintah harus turun tangan. Lakukan sidak, periksa stok sebenarnya. Jangan biarkan oknum segelintir mengeruk keuntungan sepihak, merugikan kontraktor, bahkan menghambat pembangunan daerah,” (Red)